Antibiotik merupakan obat yang dapat melawan infeksi bakteri. Antibiotik juga merupakan salah satu jenis obat yang paling sering diresepkan. Terdapat ratusan jenis antibiotik namun hanya beberapa kelompok obat saja yang sering digunakan, diantaranya adalah:
| Agent | Range of activity |
| Penicillins
Penicillins G/V Amoxicillin Cloxacillin |
Mainly gm (+) with some gm (-) Gm (-) but lesser gm (+) than penicillin Active on penicillin-resistant staph |
| Cephalosporins
1st generation 2nd, 3rd, and 4th generation |
Gm (+) dan gm (-) More activity to gm (-). 4th generation act especially on strains resistant to 2nd and 3rd generation |
| Macrolides
Erythromycin Clarithromycin Azithromycin
Telithromycin |
Gm (+), like penicillin Gm (+) and gm (-) More active to gm (-), less active on gm (+) than erythromycin Like azithromycin but more avtive on resistant strains |
| Fluoroquinolones
Ciprofloxacin Levofloxacillin Moxifloxacillin Metronidazole
Clindamycin Tetracyclines Aminoglycosides Vancomycin |
Gm (-) and some gm (+) Gm (-) and more activity on gm (+) Gm (-), gm (+) and anaerobs Antiprotozoal, with effect on gm (-) anaerobic bacteria Anaerobic with some gm (+) strains Gm (+) and gm (-) Gm (-)/aerobs Gm (+), mainly MRSA/MRSE and C. difficile |
Sumber: Ali, H., 2012, Principles of Drug Therapy in Dentistry, 1st Edition, Jaypee Brothers Medical Publishers, New Delhi, hal.62
Antibiotik yang paling sering digunakan di kedokteran gigi adalah golongan penicillin. Penicillin sampai saat ini masih merupakan gold standard dalam mengobati infeksi dental. Diantara kelompok penicillin, penicillin V, amoxicillin, dan amoxicillin clavulanate telah dianjurkan untuk merawat infeksi odontogenik dan penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil klinis penggunaan tiga jenis antibiotik tersebut.
Pertimbangan dalam Penggunaan Antibiotik
Antibiotik diresepkan oleh dokter gigi untuk perawatan serta pencegahan infeksi. Berikut ini adalah indikasi penggunaan antibiotik sistemik di bidang kedokteran gigi
- Sebagai perawatan definitif dalam penanganan infeksi postoperatif
- Sebagai perawatan penunjang untuk penanganan bedah infeksi (drainase abses)
- Demam dan menggigil yang berlangsung lebih dari 24 jam
- Trismus dikarenakan infeksi
- Cellulitis yang menyebar luas
- Individu yang immunocompromised
- Infeksi maksilofasial yang terkontaminasi
- Prosedur yang memiliki resiko infeksi tinggi
- Profilaksis untuk mencegah SABE (sub-acute bacterial endocarditis)
Terdapat beberapa prinsip untuk memilih antibiotik yang sesuai, diantaranya adalah:
- Faktor pasien
- Pertimbangan organisme yang terlibat
- Faktor obat
- Prinsip administrasi antibiotik
- Prinsip dosis antibiotik untuk infeksi orofacial
- Indikasi terapi
- Kombinasi antibiotik
- Masalah yang mungkin muncul dari penggunaan antibiotik
Durasi Penggunaan Antibiotik
Penggunaan antibiotik betujuan untuk membantu imunitas tubuh melawan mikroba penyebab infeksi, oleh karena itu penggunaan antibiotik sebaiknya dihentikan apabila sistem kekebalan tubuh telah dapat melakukan kontrol terhadap infeksi. Penggunaan antibiotik selama 2-3 hari telah dianjurkan oleh British National Formulary (BNF). Penelitian telah membuktikan bahwa kondisi pasien membaik setelah penggunaan antibiotik selama 2-3 hari. Center for Diseases Control and Prevention (CDC) menganjurkan penggunaan antibiotik sesingkat mungkin, yaitu 1-3 hari setelah tanda dan gejala klinis hilang. Oleh karena itu pada umumnya di bidang kedokteran gigi dosis antibiotik diberikan untuk durasi lima hari. Penggunaan antibiotik yang berkepanjangan dapat menyebabkan rusaknya flora normal tubuh. Penggunaan antibiotik lebih dari 21 hari juga disinyalir dapat menyebabkan resistensi antibiotik.
Antibiotik Profilaksis
Antibiotik profilaksis merupakan salah satu penggunaan antibiotik yang sering dilakukan pada bidang kedokteran gigi. Profilaksis merupakan penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi atau menekan kontak infeksi sebelum bermanifestasi secara klinis. Penggunaan antibiotik profilaksis biasanya diberikan pada pasien yang memiliki resiko tinggi terkena infeksi. Berikut guideline antibiotik profilaksis sebelum prosedur dental:
| Antibiotik profilaksis dosis tunggal 30-60 menit sebelum prosedur | |||
| Situasi | Agen | Dewasa | Anak |
| Oral | Amoxicillin | 2 g | 50 mg/kg |
| Tidak dapat mengkonsumsi medikasi oral | Ampicillin
atau Cefazolin/Ceftriaxone |
2 g IM/IV
1 g IM/IV |
50 mg/kg IM/IV
50 mg/kg IM/IV |
| Alergi terhadap Penicillin atau Ampicillin – Oral | Cephalexin
atau Clindamycin atau Azithromycin/Clarithromycin |
2 g
600 mg
500 mg |
50 mg/kg
20 mg/kg
15 mg/kg |
| Alergi terhadap Penicillin dan Ampicillin – Tidak dapat mengkonsumsi medikasi oral | Cefazolin/Ceftriaxone
atau Clindamycin |
1 g IM/IV
600 mg IM/IV |
50 mg/kg IM/IV
20 mg/kg IM/IV |
Sumber: Guideline on Antibiotic Prophylaxis for Dental Patients at Risk for Infection, Clinical Practice Guidelines 2014
Referensi:
Ali, H., 2012, Principles of Drug Therapy in Dentistry, 1st Edition, Jaypee Brothers Medical Publishers, New Delhi.
Clinical Affairs Committee, 2014, Guideline on Antibiotic Prophylaxis for Dental Patients at Risk for Infection, Clinical Practice Guidelines, 37:6 (292-297)
Dar-Odeh, N. S., Abu-Hammad, O. A., Al-Omiri, M. K., Khraisat, A. S., Shehabi, A. A., 2010, Antibiotic prescribing practices by dentists: a review, Therapeutics and Clinical Risk Management, 2016:6 (301-306)
https://www.cdc.gov/getsmart/community/downloads/dental-fact-sheet-final.pdf
Jain, M. K., Oswal, S., 2013, Antibiotics in Dentistry – An Art and Science, Annals of Dental Specialty, 1:1 (20-26)
Kontributor: Mirna Aulia