• UGM
  • IT Center
Universitas Gadjah Mada Bedah Mulut dan Maksilofasial
Fakultas Kedokteran gigi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Visi Misi
    • Daftar Staff
  • Prodi IBMM
    • Visi Misi
    • Pengelola
  • Publikasi
    • M Masykur Rahmat
    • Prihartiningsih
    • Bambang Dwirahardjo
    • Rahardjo
    • Poerwati Soetji Rahajoe
    • Cahya Yustisia Hasan
    • E. Riyati Titi Astuti
    • Pingky Krisna Arindra
    • Yosaphat Bayu Rosanto
  • Layanan
    • Bedah Dentoalveolar
      • Pencabutan Gigi
      • Operasi Gigi Impaksi
      • Alveolektomi
      • Dental Implant
    • Traumabedah mulut dan Maksilofasial
      • Fraktur Dentoalveolar
      • Fraktur Mandibula
    • Abses Dentoalveolar
    • Kelainan Kongenital pada Rongga Mulut
    • Tumor Rongga Mulut
      • Tumor Jaringan Lunak
        • Mucocele
        • Ranula
      • Tumor Jaringan Keras
  • e-Learning
    • Lesi non neoplastik neoplasma jinak
    • Modul Pembelajaran Prodi BMM
  • Home
  • Bedah Mulut dan Maksilofasial

Medikasi – Antibiotik

  • Bedah Mulut dan Maksilofasial
  • 3 November 2017, 14.01
  • By :

Antibiotik merupakan obat yang dapat melawan infeksi bakteri. Antibiotik juga merupakan salah satu jenis obat yang paling sering diresepkan. Terdapat ratusan jenis antibiotik namun hanya beberapa kelompok obat saja yang sering digunakan, diantaranya adalah:

Agent Range of activity
Penicillins

Penicillins G/V

Amoxicillin

Cloxacillin

 

Mainly gm (+) with some gm (-)

Gm (-) but lesser gm (+) than penicillin

Active on penicillin-resistant staph

Cephalosporins

1st generation

2nd, 3rd, and 4th generation

 

Gm (+) dan gm (-)

More activity to gm (-). 4th generation act especially on strains resistant to 2nd and 3rd generation

Macrolides

Erythromycin

Clarithromycin

Azithromycin

 

Telithromycin

 

Gm (+), like penicillin

Gm (+) and gm (-)

More active to gm (-), less active on gm (+) than erythromycin

Like azithromycin but more avtive on resistant strains

Fluoroquinolones

Ciprofloxacin

Levofloxacillin

Moxifloxacillin

Metronidazole

 

Clindamycin

Tetracyclines

Aminoglycosides

Vancomycin

 

Gm (-) and some gm (+)

Gm (-) and more activity on gm (+)

Gm (-), gm (+) and anaerobs

Antiprotozoal, with effect on gm (-) anaerobic bacteria

Anaerobic with some gm (+) strains

Gm (+) and gm (-)

Gm (-)/aerobs

Gm (+), mainly MRSA/MRSE and C. difficile

Sumber:  Ali, H., 2012, Principles of Drug Therapy in Dentistry, 1st Edition, Jaypee Brothers Medical Publishers, New Delhi, hal.62

 

Antibiotik yang paling sering digunakan di kedokteran gigi adalah golongan penicillin. Penicillin sampai saat ini masih merupakan gold standard dalam mengobati infeksi dental. Diantara kelompok penicillin, penicillin V, amoxicillin, dan amoxicillin clavulanate telah dianjurkan untuk merawat infeksi odontogenik dan penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil klinis penggunaan tiga jenis antibiotik tersebut.

Pertimbangan dalam Penggunaan Antibiotik

Antibiotik diresepkan oleh dokter gigi untuk perawatan serta pencegahan infeksi. Berikut ini adalah indikasi penggunaan antibiotik sistemik di bidang kedokteran gigi

  • Sebagai perawatan definitif dalam penanganan infeksi postoperatif
  • Sebagai perawatan penunjang untuk penanganan bedah infeksi (drainase abses)
  • Demam dan menggigil yang berlangsung lebih dari 24 jam
  • Trismus dikarenakan infeksi
  • Cellulitis yang menyebar luas
  • Individu yang immunocompromised
  • Infeksi maksilofasial yang terkontaminasi
  • Prosedur yang memiliki resiko infeksi tinggi
  • Profilaksis untuk mencegah SABE (sub-acute bacterial endocarditis)

Terdapat beberapa prinsip untuk memilih antibiotik yang sesuai, diantaranya adalah:

  • Faktor pasien
  • Pertimbangan organisme yang terlibat
  • Faktor obat
  • Prinsip administrasi antibiotik
  • Prinsip dosis antibiotik untuk infeksi orofacial
  • Indikasi terapi
  • Kombinasi antibiotik
  • Masalah yang mungkin muncul dari penggunaan antibiotik

Durasi Penggunaan Antibiotik

Penggunaan antibiotik betujuan untuk membantu imunitas tubuh melawan mikroba penyebab infeksi, oleh karena itu penggunaan antibiotik sebaiknya dihentikan apabila sistem kekebalan tubuh telah dapat melakukan kontrol terhadap infeksi. Penggunaan antibiotik selama 2-3 hari telah dianjurkan oleh British National Formulary (BNF). Penelitian telah membuktikan bahwa kondisi pasien membaik setelah penggunaan antibiotik selama 2-3 hari. Center for Diseases Control and Prevention (CDC) menganjurkan penggunaan antibiotik sesingkat mungkin, yaitu 1-3 hari setelah tanda dan gejala klinis hilang. Oleh karena itu pada umumnya di bidang kedokteran gigi dosis antibiotik diberikan untuk durasi lima hari. Penggunaan antibiotik yang berkepanjangan dapat menyebabkan rusaknya flora normal tubuh. Penggunaan antibiotik lebih dari 21 hari juga disinyalir dapat menyebabkan resistensi antibiotik.

Antibiotik Profilaksis

Antibiotik profilaksis merupakan salah satu penggunaan antibiotik yang sering dilakukan pada bidang kedokteran gigi. Profilaksis merupakan penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi atau menekan kontak infeksi sebelum bermanifestasi secara klinis. Penggunaan antibiotik profilaksis biasanya diberikan pada pasien yang memiliki resiko tinggi terkena infeksi. Berikut guideline antibiotik profilaksis sebelum prosedur dental:

Antibiotik profilaksis dosis tunggal 30-60 menit sebelum prosedur
Situasi Agen Dewasa Anak
Oral Amoxicillin 2 g 50 mg/kg
Tidak dapat mengkonsumsi medikasi oral Ampicillin

atau

Cefazolin/Ceftriaxone

2 g IM/IV

 

1 g IM/IV

50 mg/kg IM/IV

 

50 mg/kg IM/IV

Alergi terhadap Penicillin atau Ampicillin – Oral Cephalexin

atau

Clindamycin

atau

Azithromycin/Clarithromycin

2 g

 

600 mg

 

500 mg

50 mg/kg

 

20 mg/kg

 

15 mg/kg

Alergi terhadap Penicillin dan Ampicillin – Tidak dapat mengkonsumsi medikasi oral Cefazolin/Ceftriaxone

atau

Clindamycin

1 g IM/IV

 

600 mg IM/IV

50 mg/kg IM/IV

 

20 mg/kg IM/IV

Sumber: Guideline on Antibiotic Prophylaxis for Dental Patients at Risk for Infection, Clinical Practice Guidelines 2014

 

Referensi:

Ali, H., 2012, Principles of Drug Therapy in Dentistry, 1st Edition, Jaypee Brothers Medical Publishers, New Delhi.

Clinical Affairs Committee, 2014, Guideline on Antibiotic Prophylaxis for Dental Patients at Risk for Infection, Clinical Practice Guidelines, 37:6 (292-297)

Dar-Odeh, N. S., Abu-Hammad, O. A., Al-Omiri, M. K., Khraisat, A. S., Shehabi, A. A., 2010, Antibiotic prescribing practices by dentists: a review, Therapeutics and Clinical Risk Management, 2016:6 (301-306)

https://www.cdc.gov/getsmart/community/downloads/dental-fact-sheet-final.pdf

Jain, M. K., Oswal, S., 2013, Antibiotics in Dentistry – An Art and Science, Annals of Dental Specialty, 1:1 (20-26)

 

 

Kontributor: Mirna Aulia

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

Tumor Jaringan Keras

Layanan Monday, 22 October 2018

Tumor Jaringan Keras meliputi

Kista odontogenik

Ameloblastoma

.

Tumor Jaringan Lunak

Layanan Monday, 22 October 2018

Tumor Jaringan Lunak meliputi:

ranula

Mucocele

.

Tumor Rongga Mulut

Layanan Monday, 22 October 2018

meliputi tumor jaringan keras dan tumor jaringan Lunak

.

Abses Odontogenik

Layanan Monday, 22 October 2018

Gigi berlubang biasanya berbentuk lubang berwarna hitam atau cokelat gelap yang berkembang pada permukaan gigi bagian geraham belakang dan geraham lainnya yang bertugas mengunyah dan menggiling makanan.

Universitas Gadjah Mada

Jl. Denta Sekip Utara Yogyakarta
Telp.Fax +62-274-515307

fax:+62-274-547667 ext 106

email:fkg@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada