Anamnesis
Anamnesis merupakan percakapan profesional terencana antara dokter dan pasien dalam rangka menyusun riwayat penyakit. Melalui kegiatan ini penderita diharapkan dapat mengemukakan berbagai keluhan yang dirasakan kepada dokter, sehingga informasi mengenai penyakit baik yang sesungguhnya ataupun yang dicurigai dapat ditegakkan. Selain memberi arah dan luasnya pemeriksaan, riwayat ini memberikan kontribusi yang tidak kecil dalam mengungkap berbagai faktor terkait seperti faktor mental, sosio ekonomi, dan budaya yang mungkin menjadi latar belakang penyakit atau masalah kesehatan yang sedang dihadapi pasien.
Bekal pengetahuan fakta medik-dental saja tidak akan banyak bermanfaat jika mereka tidak terlatih untuk mencari makna yang tersembunyi dari berbagai tanggapan yang diberikan penderita sebagai pribadi seutuhnya. Sikap saling percaya, saling menghargai, dan empati akan sangat mendukung terbinanya sambung rasa dan kelancaran komunikasi antara pasien dengan dokter, sehingga jawaban-jawaban yang diberikan pasien baik verbal atau non verbal dapat mengambarkan perwujudan penyakit yang sebenarnya.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan saat melakukan ananmnesis:
Memulai wawancara
Dengan sikap rendah hati berikan salam hormat kepada pasien (misalnya dengan jabat tangan atau gerak isyarat mempersilahkan pasien duduk). Melalui pendekatan yang sopan umumnya penderita akan memberi respon yang menyenangkan.
Sikap menghadapi pasien
Tanpa memandang siapa yang saudara hadapi, tunjukkan sikap yang sungguh-sungguh ingin menolong pasien. Hadapi pasien dengan tenang dan hindari banyak aktifitas yang dapat mengganggu pasien (misalnya sering melihat jam atau mencatat hasil wawancara dengan tergesa-gesa). Lakukan pendekatan secara kekeluargaan sebelum menanyakan permasalahan pokok atau keluhan utamanya.
Pasien yang datang berobat sering disertai kekhawatiran mengenai penyakit yang sedang diderita, dan jika pasien menderita penyakit yang kronis, biasanya pasien akan peka atau mudah marah. Untuk itu dalam setiap pembicaraan dengan pasien, jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan yang menyinggung perasaan atau mengungkap kelemahan pasien.
Mengajukan pertanyaan kepada pasien.
Gunakanlah pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mudah dimengerti, sehingga pasien dapat dengan bebas mengutarakan keluhannya. Mulailah dengan mengajukan pertanyaan yang cakupannya luas, baru kemudian di-lanjutkan pertanyaan yang lebih detail.
Hindari pertanyaan yang sifatnya memaksa mengarahkan. Misalnya apakah nyeri giginya terasa sampai ke kepala?
Hindari pertanyaan yang banyak secara berurutan: Kapan sakit timbul? Waktu itu sedang apa? Hal-hal apa yang meringankan?
Hindari pertanyaan mengapa. Mengapa sekarang baru diperiksakan? Pasien akan merasa dirinya dipojokkan dan malu, sehingga akan memberi respon yang diawali dengan nervous atau tersenyum malu
Mencatat hasil wawancara.
Fakta klinis penting atau yang menonjol memang perlu perhatian khusus, namun jika pencatatannya dilakukan selama wawancara justru dapat mengacaukan pikiran pasien dan mengganggu jalannya wawancara. Untuk itu maka pencatatannya dapat dilakukan setelah wawancara selesai. Menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner), walaupun dengan cara ini kelihatannya praktis, namun cara ini tidak dapat menggantikan wawancara yang sebenarnya. Untuk kasus-kasus yang sifatnya individual cara ini tidak akan dapat memberikan informasi yang lengkap. Agar riwayat penyakit dapat lengkap dan akurat maka untuk menyusunnya perlu pendekatan yang sistematis dan runtut meliputi unsur-unsur berikut :
Data demografis
Merupakan informasi yang harus dicatat pertama kali dalam database diagnosis, yaitu identitas pasien yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, tempat lahir, pekerjaan, agama dan alamat pasien. Jika pasien mempunyai dokter pribadi atau keluarga perlu dicatat alamat dokter yang bersangkutan. Informasi demikian penting karena beberapa penyakit dan kondisi tertentu dijumpai pada kelompok umur, jenis kelamin, ras atau kelompok pekerja tertentu.