• UGM
  • IT Center
Universitas Gadjah Mada Bedah Mulut dan Maksilofasial
Fakultas Kedokteran gigi
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Visi Misi
    • Daftar Staff
  • Prodi IBMM
    • Visi Misi
    • Pengelola
  • Publikasi
    • M Masykur Rahmat
    • Prihartiningsih
    • Bambang Dwirahardjo
    • Rahardjo
    • Poerwati Soetji Rahajoe
    • Cahya Yustisia Hasan
    • E. Riyati Titi Astuti
    • Pingky Krisna Arindra
    • Yosaphat Bayu Rosanto
  • Layanan
    • Bedah Dentoalveolar
      • Pencabutan Gigi
      • Operasi Gigi Impaksi
      • Alveolektomi
      • Dental Implant
    • Traumabedah mulut dan Maksilofasial
      • Fraktur Dentoalveolar
      • Fraktur Mandibula
    • Abses Dentoalveolar
    • Kelainan Kongenital pada Rongga Mulut
    • Tumor Rongga Mulut
      • Tumor Jaringan Lunak
        • Mucocele
        • Ranula
      • Tumor Jaringan Keras
  • e-Learning
    • Lesi non neoplastik neoplasma jinak
    • Modul Pembelajaran Prodi BMM
  • Home
  • Bedah Mulut dan Maksilofasial

Ketrampilan Dasar Diagnostik – Anamnesis

  • Bedah Mulut dan Maksilofasial
  • 22 September 2017, 08.05
  • By :

Anamnesis

Anamnesis merupakan percakapan profesional terencana antara dokter dan pasien dalam rangka menyusun riwayat penyakit. Melalui kegiatan ini penderita diharapkan dapat mengemukakan  berbagai  keluhan  yang  dirasakan  kepada  dokter,  sehingga  informasi mengenai penyakit baik yang sesungguhnya ataupun yang dicurigai dapat ditegakkan. Selain memberi arah dan luasnya pemeriksaan, riwayat ini memberikan kontribusi yang tidak kecil dalam mengungkap berbagai faktor terkait seperti faktor mental, sosio ekonomi, dan budaya yang mungkin menjadi latar belakang penyakit atau masalah kesehatan yang sedang dihadapi pasien.

Bekal pengetahuan fakta medik-dental saja tidak akan banyak bermanfaat jika mereka tidak terlatih untuk mencari makna yang tersembunyi dari berbagai tanggapan yang diberikan penderita sebagai pribadi seutuhnya. Sikap saling percaya, saling menghargai, dan empati akan sangat mendukung terbinanya sambung rasa dan kelancaran komunikasi antara pasien dengan dokter, sehingga jawaban-jawaban yang diberikan pasien baik verbal atau non verbal dapat mengambarkan perwujudan penyakit yang sebenarnya.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan saat melakukan ananmnesis:

Memulai wawancara

Dengan sikap rendah hati berikan salam hormat kepada pasien (misalnya dengan jabat tangan atau gerak isyarat mempersilahkan pasien duduk). Melalui pendekatan yang sopan umumnya penderita akan memberi respon yang menyenangkan.

 Sikap menghadapi pasien

Tanpa memandang siapa yang saudara hadapi, tunjukkan sikap yang sungguh-sungguh ingin menolong pasien. Hadapi pasien dengan tenang dan hindari banyak aktifitas yang dapat mengganggu pasien (misalnya sering melihat jam atau mencatat hasil wawancara dengan tergesa-gesa). Lakukan pendekatan secara kekeluargaan sebelum menanyakan permasalahan pokok atau keluhan utamanya.

Pasien yang datang berobat sering disertai kekhawatiran mengenai penyakit yang sedang diderita, dan jika pasien menderita penyakit yang kronis, biasanya pasien akan peka atau mudah marah. Untuk itu dalam setiap pembicaraan dengan pasien, jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan yang menyinggung perasaan atau mengungkap kelemahan pasien.

Mengajukan pertanyaan kepada pasien.

Gunakanlah pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mudah dimengerti, sehingga pasien dapat dengan bebas mengutarakan keluhannya. Mulailah dengan mengajukan pertanyaan yang cakupannya luas, baru kemudian di-lanjutkan pertanyaan yang lebih detail.

Hindari pertanyaan yang sifatnya memaksa mengarahkan. Misalnya apakah nyeri giginya terasa sampai ke kepala?

Hindari pertanyaan yang banyak secara berurutan: Kapan sakit timbul? Waktu itu sedang apa? Hal-hal apa yang meringankan?

Hindari pertanyaan mengapa. Mengapa sekarang baru diperiksakan? Pasien akan merasa dirinya dipojokkan dan malu, sehingga akan memberi respon yang diawali dengan nervous atau tersenyum malu

Mencatat hasil wawancara.

Fakta klinis penting atau yang menonjol memang perlu perhatian khusus, namun jika pencatatannya dilakukan selama wawancara justru dapat mengacaukan pikiran pasien dan mengganggu jalannya wawancara. Untuk itu maka pencatatannya dapat dilakukan setelah wawancara selesai. Menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner), walaupun dengan cara ini kelihatannya praktis, namun cara ini tidak dapat menggantikan wawancara yang sebenarnya. Untuk kasus-kasus yang sifatnya individual cara ini tidak akan dapat memberikan informasi yang lengkap. Agar riwayat penyakit dapat lengkap dan akurat maka untuk menyusunnya perlu pendekatan yang sistematis dan runtut meliputi unsur-unsur berikut :

Data demografis

Merupakan informasi yang harus dicatat pertama kali dalam database diagnosis, yaitu identitas pasien yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, tempat lahir, pekerjaan, agama dan alamat pasien. Jika pasien mempunyai dokter pribadi atau keluarga perlu dicatat alamat dokter yang bersangkutan. Informasi demikian penting karena beberapa penyakit dan kondisi tertentu dijumpai pada kelompok umur, jenis kelamin, ras atau kelompok pekerja tertentu.

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

Tumor Jaringan Keras

Layanan Monday, 22 October 2018

Tumor Jaringan Keras meliputi

Kista odontogenik

Ameloblastoma

.

Tumor Jaringan Lunak

Layanan Monday, 22 October 2018

Tumor Jaringan Lunak meliputi:

ranula

Mucocele

.

Tumor Rongga Mulut

Layanan Monday, 22 October 2018

meliputi tumor jaringan keras dan tumor jaringan Lunak

.

Abses Odontogenik

Layanan Monday, 22 October 2018

Gigi berlubang biasanya berbentuk lubang berwarna hitam atau cokelat gelap yang berkembang pada permukaan gigi bagian geraham belakang dan geraham lainnya yang bertugas mengunyah dan menggiling makanan.

Universitas Gadjah Mada

Jl. Denta Sekip Utara Yogyakarta
Telp.Fax +62-274-515307

fax:+62-274-547667 ext 106

email:fkg@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada