Seorang pasien (16) rujukan RSU Gunung Kidul, datang ke Poli Bedah Mulut RSUP. Dr. Sardjito, Yogyakarta untuk mencabutkan gigi depan kanan atas yang gingsul dan sering melukai bibir saat mengunyah. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik dan alergi obat-obatan. Pada pemeriksaan klinis didapatkan keadaan umum pasien baik dan kooperatif. Pemeriksaan ekstra oral wajah simetris dalam batas normal. Pemeriksaan intra oral, gigi incisivus sentral satu kanan maksila rotasi (11), gigi incisivus sentral dua kanan maksila labioversi (12) dan gigi caninusdesidui (53) radices. Pada pemeriksaan rontgen orthopantomogram (OPG) terlihat adanya gigi caninus yang embedded (13). Pada kunjungan ini dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Keluarga pasien dijelaskan soal rencana pengambilan gigi impaksi yang terpendam dan pemasangan kembali untuk menggantikan gigi caninus desidui
Pada kunjungan berikutnya, pasien dilakukan odontektomi gigi 13, ekstraksi 12 dan caninus desidui serta autotransplantasi gigi 13 menggantikan gigi desidui. Sebelum tindakan keluarga dan pasien kembali dijelaskan rencana tindakan dan mengisi persetujuan tindakan medis. Operasi pada kasus ini menggunakan anestesi lokal dengan flap triangular. Operasi dimulai dengan odontektomi gigi 13 dan direndam dalam larutan NaCl, kemudian dilanjutkan ekstraksi gigi 12 dan caninus desidui. Setelah selesai gigi 13 diadaptasi disoket caninus desidui dengan penyesuaian ukuran lebar soket gigi, serta gigi 11 di rotasi ke arah normal. Fiksasi dengan essig untuk stabilisai gigi 13 dan 11 dengan posisi infra oklusi yang diikuti pembentukan gigi 13 menyerupai gigi 12, kemudian dilakukan suturing interrupted dengan safil 3.0
Medikasi post operasi diberikan resep berupa Amoxicilin 500 mg, Metilprednisolon 4 mg, Asam Mefenamat 500 mg dan Osofan 400 mg 2×1. Pasien disarankan untuk menjaga kebersihan mulut dan luka operasi serta lepas jahitan 1 minggu kemudian. Seminggu setelah operasi pasien kontrol, perdarahan dan keluhan yang berarti tidak dijumpai. Pembengkakan atau parestesi tidak terjadi. Pada kunjungan ini dilakukan pengambilan benang. Pada kontrol 3 bulan setelah operasi tidak ditemukan kegoyahan, resesi, fistel dan perubahan warna pada gigi.
Kontributor : Adi Subekti Putra, Maria Gorreti, dan Poerwati Soetji Rahajoe